home

home
klik gambar untuk kembali ke halaman utama

Jumat, 25 Mei 2012

Pembuatan Buffer

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Buffer merupakan larutan yang terdiri dari asam lemah dan garam yang dapat mempertahankan dan menjaga pH. Salah satu sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya. pH larytan ini akan hanya berubah sedikit dengan memberikan sedikit asam kuat atau basa kuat. Larutan penyangga tersusun dari asam lemah dengan basa konjugatnya atau oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Larutan buffer terdiri dari campuran asam/basa lemah dan basa/asam konjugasinya yang dapat mempertahankan pH di sekitar daerah kapasitas buffer. Larutan buffer dibuat dari senyawa sitrat dan fosfat. Larutan buffer ini tentu saja bukan hanya sekedar suatu pencampuran larutan akan tetapi mempunyai fungsi tersendiri yang mungkin saja dapat bermanfaat. Contohnya saja pada bidang-bidang medis banyak menggunakan larutan penyangga ini akan tetapi dikombinasikan dalam bentuk obat-obatan atau sejenisnya, akan tetapi bagaimana proses kerja larutan penyangga dalam bidang medis ataupun dalam tubuh belum dapat dipahami sepenuhnya sebelum melakukan percobaan. Konsentrasi yang cocok untuk pembuatan larutan penyangga harus sesuai dengan ketentuan dalam prinsip pembuatan larutan buffer. Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum ini agar kita mengetahui bagaimana proses pembuatan larutan penyangga ini, sehingga kita mampu mengaplikasikannya kembali.
B. Tujuan Praktikum Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah: 1. Untuk mengetahui proses pembuatan buffer. 2. Untuk mengetahui pengaruh larutan buffer terhadap perubahan pH pada larutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Buffer Buffer atau Larutan penyangga adalah satu zat yang menahan perubahan pH ketika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan kedalamnya. Kebutuhan buffer kadang menyulitkan karena hampir setiap analisa membutuhkan kondisi pH tertentu yang relatif stabil. Karena banyaknya macam dan jenis buffer, pemilihan buffer yang akan digunakan menjadi masalah tersendiri. Dalam memilih buffer, yang harus diperhatikan adalah pH optimum serta sifat-sifat biologisnya. Banyak jenis buffer yang mempunyai impact terhadap sistem biologis, aktivitas enzim, substrate, atau kofaktor. Sebagai contoh buffer phosphat akan menghambat aktivitas dari beberapa metabolik enzim termasuk karboksilase, fumarase, dan phosphoglucomutase. Barbiturate menghambat phophorilasi oksidatif dan masih banyak efek lain yang diberikan buffer. Oleh karena itu pemilihan buffer terkadang menjadi kesulitan yang cukup merepotkan. Oleh karena itu, gunakan konsentrasi buffer serendah mungkin yang masih dapat untuk memaintain pH Anonima (2011). Buffer dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari larutan penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya berubah sedikit pada penambahan sedikit asam kuat. Disamping itu larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun sebaliknya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi Anonimb (2011). Menurut Anonimb (2011) Komponen larutan penyangga terbagi menjadi: 1. Larutan penyangga yang bersifat asam Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain. 2. Larutan penyangga yang bersifat basa Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebih. B. Fungsi Buffer Buffer memiliki banyak fungsi pada berbagai industri. Di industri farmasi, buffer berfungsi dalam pembuatan obat-obatan, agar zat aktif obat tersebut mempunyai pH tertentu. Di bidang biologi, enzim-enzim dapat bekerja pada pH yang sesuai. Oleh karena itu, pH dapat dibuat sesuai dalam bentuk campuran buffer. Dibidang analisis, campuran buffer dapat digunakan untuk analisis kualitatif atau analisis kuantitatif, misalnya pemisahan protein melalui elektroforesis, penetapan secara kuantitatif ion-ion logam, Pengendapan atau pelarutan suatu senyawa. Sistem buffer juga berfungsi untuk menjaga pH darah agar selalu konstan (Zakir, 2009). C. Prinsip kerja larutan penyangga Menurut Anonimc (2011) Prinsip kerja dari larutan penyangga yang dapat mempertahankan harga pH pada kisarannya adalah sebagai berikut. a. Larutan Penyangga Asam HA/A - HA (aq) --> A - (aq) + H + (aq) • Jika ditambah sedikit asam kuat (H + ) Ion H + dari asam kuat akan menaikkan konsentrasi H + dalam larutan, sehingga reaksi kesetimbangan larutan terganggu; reaksi akan bergeser ke kiri. Namun, basa konjugasi (A - ) akan menetralisir H + dan membentuk HA. A - (aq) + H + (aq) → HA (aq) Kesetimbangan yang baru tidak terdapat perubahan konsentrasi H + yang berarti, besarnya pH dapat dipertahankan pada kisarannya. • Jika ditambah sedikit basa kuat (OH - ) Ion OH - dari basa kuat akan bereaksi dengan H + dalam larutan, sehingga konsentrasi H + menurun dan kesetimbangan larutan terganggu. Oleh karena itu, HA dalam larutan akan terionisasi membentuk H + dan A - ; reaksi kesetimbangan bergeser ke kanan OH - (aq) + H + (aq) → H 2 O (l) HA (aq) → A - (aq) + H + (aq) Kesetimbangan yang baru tidak terdapat perubahan konsentrasi H + yang nyata; pH larutan dapat dipertahankan pada kisarannya. Asam lemah dapat menetralisir penambahan sedikit basa OH - . HA (aq) + OH - (aq) → A - (aq) + H 2 O (l) • Jika larutan penyangga diencerkan Pengenceran larutan merupakan penambahan air (H 2 O) pada larutan. Air (H 2 O) akan mengalami reaksi kesetimbangan menjadi H + dan OH -, namun H 2 O yang terurai sangat sedikit. Jadi, konsentrasi H + dan OH - sangat kecil, sehingga dapat diabaikan. b. Larutan Penyangga Basa B/BH + B (aq) + H 2 O (l) --> BH + (aq) + OH - (aq) • Penambahan sedikit asam kuat (H + ) H + dari asam kuat dapat bereaksi dengan OH - pada larutan, sehingga konsentrasi OH - menurun dan reaksi kesetimbangan akan bergeser ke kiri. Basa lemah (B) dalam larutan akan bereaksi dengan H 2 O membentuk asam konjugasinya dan ion OH - . H + (aq) + OH - (aq) → H 2 O (l) B (aq) + H 2 O (l) → BH + (aq) + OH - (aq) Kesetimbangan yang baru tidak terdapat perubahan pH yang nyata, besarnya pH dapat dipertahankan. Basa lemah dapat menetralkan penambahan sedikit asam (H + ). B (aq) + H + (aq) → BH + (aq) • Penambahan sedikit basa kuat (OH - ) Basa kuat (OH - ) dapat meningkatkan konsentrasi OH - dalam larutan, sehingga reaksi kesetimbangan akan bergeser ke kiri. Namun adanya asam konjugasi (BH + ) dapat menetralkan kehadiran OH - dan membentuk B dan H 2 O. Sehingga pada kesetimbangan tidak terdapat perubahan konsentrasi OH - yang nyata, dan pH larutan dapat dipertahankan. BH + (aq) + OH - (aq) → B (aq) + H 2 O (l) • Penambahan air (pengenceran) Penambahan H 2 O dalam larutan akan langsung terionisasi menjadi H + dan OH -, namun konsentrasi H + dan OH - sangat kecil, sehingga dapat diabaikan.

B. Pencampuran dua larutan Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi. Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, seperti CH3COONa dilarutkan dalam aquadest. Gas juga dapat pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi dan mineral tertentu. Untuk jenis larutan padat pada umumnya untuk dijadikan larutan maka akan ditambahkan pelarut berupa air Anonimd (2011).

C. Natrium Asetat Natrium asetat atau natrium etanoat adalah garam natrium dari asam asetat. Senyawa ini merupakan zat kimia berharga terjangkau yang diproduksi dalam jumlah industri untuk berbagai keperluan. Senyawa ini juga kadang dihasilkan dalam eksperimen laboratorium, misalnya reaksi asam asetat dengan natrium karbonat, natrium bikarbonat, atau natrium hidroksida, menghasilkan beberapa basa yang mengandung natrium Anonime (2011).

III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Aplikasi Biokimia Pasca Panen ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 21 Februari 2011 pukul 08.00–11.00 WITA, bertempat di Laboratorium Kimia Analisa dan Pengawasan Mutu Pangan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
B. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah: - gelas kimia - batang pengaduk - elemenyer - pipet volume - burret - bulb - timbangan analitik - pipet mikro Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah: - natrium asetat - aquadest - aluminium foil - kertas label - NaOH - CH3COOH - NaH2(PO)4 - tissue roll
C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja praktikum ini adalah a. Buffer Asetat 1. Larutan CH3COOH 0,2 M sebanyak 500 ml. - Dihitung jumlah bahan yang akan dibutuhkan untuk membuat larutan asam asetat 0,2 M sebanyak 500 ml dengan menggunakan rumus molaritas. - Bahan asam asetat dipipet dengan menggunakan pipet tetes pada ruang asam sesuai dengan jumlah bahan yang telah dihitung yaitu sebanyak 5,99 ml. - Bahan yang sudah ditimbang kemudian ditambahkan dengan aquadest sampai volume larutan mencapai 500 ml kemudian aduk sampai rata. 2. Larutan NaCH3COOH 0,2 M sebanyak 500 ml - Hitung jumlah bahan yang akan dibutuhkan untuk membuat larutan Natrium Asetat 0,2 M sebanyak 500 ml dengan menggunakan rumus molaritas. - Bahan Natrium Asetat ditimbang dengan menggunakan gelas kimia pada timbangan digital sesuai dengan jumlah bahan kimia yang telah dihitung sebelumnya sebanyak 8,2 gram. - Bahan yang sudah ditimbang kemudian ditambahkan aquades sampai volume larutan mencapai 500 ml kemudian aduk sampai rata. - Bahan kemudian diberi label. 3. Bahan (asam asetat) di pipet sebanyak 83 ml kemudian dipindahkan ke elemenyer 1. 4. Bahan (natrium asetat) di pipet sebanyak 17 ml kemudian dipindahkan ke elemenyer 1. 5. Homogenkan larutan dan beri label pada elemnyer b. Buffer Fosfat 1. Larutan NaOH 0,1 M sebanyak 500 ml. - Dihitung jumlah bahan yang akan dibutuhkan untuk membuat larutan Natrium Asetat 0,1 M sebanyak 500 ml dengan menggunakan rumus molaritas. - NaOH ditimbang dengan menggunakan gelas kimia pada timbangan digital sesuai dengan jumlah bahan kimia yang telah dihitung sebelumnya sebanyak 2 gram. - Bahan yang sudah ditimbang kemudian ditambahkan aquades sampai volume larutan mencapai 500 ml kemudian aduk sampai rata. - Bahan kemudian diberi label. 2. Larutan NaOH 45 ml di pipet sebanyak 9,1 ml kemudian dipindahkan ke elemenyer 2. 3. Bahan (natrium fosfat) di pipet sebanyak 50 ml kemudian dipindahkan ke elemenyer 2. 4. Ditambahkan aquadest sebanyak 5 ml aquadest ke elemenyer 2. 5. Dihomogenkan larutan dan beri label pada Erlenmeyer. -

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil praktikum kali ini disajikan dalam bentuk tabel Tabel 01. Hasil Perhitungan Buffer Asetat Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 x ml 92 88 83 17 22 32 43 pH 3,6 3,8 4,0 5,4 5,2 5,0 4,8 Natrium Asetat 8 12 17 83 78 18 57 Sumber : Data Primer Hasil Praktikum Aplikasi Biokimia Pasca Panen, 2011 Tabel 02. Hasil Perhitungan Buffer Fosfat Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 x ml 3,5 5,8 9,1 47 45 43 40 pH 5,8 6,0 6,2 8,0 7,8 7,6 7,4 Natrium Asetat 50 50 50 50 50 50 50 Air 46,5 44,2 40,9 3 5 7 10 Sumber : Data Primer Hasil Praktikum Aplikasi Biokimia Pasca Panen, 2011
B. Pembahasan o Larutan Natrium Asetat 0,2 M sebanyak 500 ml Natrium Asetat 0,2 M yang akan dibuat larutan dengan menggunakan volume sebanyak 500 ml. Natrium Asetat yang digunakan dalam praktikum ini yakni dalam bentuk padatan. Untuk melarutkan dalam pelarut dicari beratnya dengan menggunakan rumus molaritas x Mr maka berat adalah 8,2 gram. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2010b) bahwa untuk jenis padatan yang dibuat larutan maka ditambahkan dengan air agar dapat terbentuk larutan. o Buffer Asetat 83 ml Buffer Asetat dibuat dengan cara mempipet larutan asam asetat sebanyak 83 ml dan natrium asetat sebanyak 17 ml kemudian dihomogenkan. Hal ini dilakukan untuk membantu mengatasi perubahan pH yang berlebihan yang terjadi pada saat pembuatan larutan. Hal ini sesuai dengan Anonima (2011) bahwa buffer merupakan satu zat yang menahan perubahan pH ketika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan kedalamnya. Buffer atau larutan penyangga adalah satu zat yang menahan perubahan pH ketika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan kedalamnya. Larutan penyangga tersusun dari asam lemah dengan basa konjugatnya atau oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Hal ini sesuai dengan Anonima (2011) bahwa buffer dapat mempertahankan perubahan pH pada saat reaksi kimia berlangsung. Buffer dapat mempertahankan nilai pH tertentu karena larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun basa lemah dan asam konjugatnya. Larutan penyangga ini terdiri atas larutan penyangga bersifat asam dan larutan penyangga basa. Hal ini sesuai dengan Anonimb (2011) bahwa Buffer dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Sifat yang paling menonjol dari larutan penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya berubah sedikit pada penambahan sedikit asam kuat. o Buffer Fosfat Pembuatan buffer fosfat dalam praktikum ini dibuat denagn cara menambahkan 50 ml Natrium hydrogen fosfat denagn NaOH 45 ml dan aquades 5 ml, sehingga menacapai volume 100 mL. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anonim (2011a), bahwa prosedur pembuatan buffer fosfsat dengan cara menambahakan larutan NaOH dengan larutan natrium fosfat dengan volume yang telah ditentukan agar mendapatkan pH buffer tertentu.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan Kesimpulan yang didapatkan pada praktikum kali ini adalah: 1. Larutan buffer dibuat dengan cara menambahkan senyawa asam dan basa 2. Pengaruh larutan buffer terhadap perubahan pH pada larutan adalah walaupun di tambahakan sedikit asam atau sedikit basa pH-nya hanya sedikit berubah.
B. Saran Saran kami untuk praktikum selanjutnya agar pada pembuatan larutan buffer tidak hanya membuat larutan buffer saja tetapi dengan mengukur pH larutan agar kita dapat mengetahui pengaruh perubahan penambahan asam atau basa pada larutan buffer.

DAFTAR PUSTAKA
Anonima, 2011. Buffer. http://www. com/doc/31401403/Laporan-Praktikum-Bioselmol-Larutan-Bufferi. Akses tanggal Februari 2011. Makassar. Anonimb, 2011. Pengaruh Buffer Terhadap pH http://www. /Laporan-Praktikum-Bioselmol-Larutan-Buffer. Akses tanggal Februari 2011. Makassar. Anonimc, 2011. Prinsip Kerja Larutan Penyangga. http://sahri.ohlog.com/larutan-buffer.cat3433.html. Akses tanggal Februari 2011. Makassar. Anonimd, 2011. Natrium Asetat. http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_asetat. Akses tanggal Februari 2011. Makassar. Zakir, dkk. 2009. Kimia Dasar. UPT MKU Universitas Hasanuddin. Makassar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar